June 07, 2024

Jungle Trek in Bukit Lawang, See Orang Utan


Jungle trek, jungle trek, in Bukit Lawang.
See the monkeys, see the birds, see orang utans. 

Pasca menonton YouTube "Travel with Rafa", jadi terngiang-ngiang terus lagu "Jungle Trek" dan jadi ingin sekali rasanya melihat orang utan, bermacam monyet dan burung-burung di hutan Sumatera. Tepatnya di Taman Nasional Gunung Leuser, Bukit Lawang, yang berbatasan dengan Provinsi Aceh. Seperti yang kita tahu, di Indonesia, orang utan ini cuma ada di Sumatera dan Kalimantan. 
Nah, mumpung lagi tinggal di Medan dan ada teman yang ngajakin ke sana. Gass nggak siiih...

January 11, 2024

Perempuan Rok Ungu

A Novel by Imamura Natsuko, translated by Asri Prastiwi Wulandari


Novel terjemahan Bahasa Jepang karya Natsuko Imamura menjadi buku pertama yang kubaca di tahun 2024. Bukunya tipis, hanya terdiri dari 120 halaman. Lumayanlah bisa dibaca sekali duduk di hari Minggu sore. Apalagi buku yang diterjemahkan oleh Asri Pratiwi Wulandari ini mudah sekali dibaca, terjemahan tidak kaku. Tidak ada bab/chapter, penomoran etc, jadi mblandang aja terus bacanya. Wkwk.


Judulnya Perempuan Rok Ungu, tapi covernya bergambar Perempuan Kardigan Kuning. Jadi bikin penasaran, kan? Rupanya penulis menjadikan Perempuan Kardigan Kuning sebagai tokoh “Aku” yang menceritakan sosok Perempuan Rok Ungu. Dari tampilannya, tempat tinggalnya, kebiasaannya, pekerjaannya, dan segala keunikannya. Perempuan Kardigan Kuning selalu memantau dan mengikuti apa yang dilakukan Perempuan Rok Ungu semata-mata agar bisa berteman degannya.

Ceritanya ringan, tidak banyak tokoh di dalamnya. Konfliknya pun tidak rumit, terjadi saat Perempuan Rok Ungu berkali-kali melamar pekerjaan tapi selalu ditolak saat wawancara karena tampilannya yang semrawut. Hingga akhirnya ia diterima di sebuah hotel sebagai housekeeper. Lalu adanya affair antara Perempuan Rok Ungu dengan atasannya (kepala bagian) dan perkelahian antara keduanya yang mencelakakan kepala bagian. Endingnya menggantung, penulis tidak menjelaskan lagi tentang Perempuan Rok Ungu.


Meskipun ceritanya sederhana, tapi ada beberapa hal yang cukup menarik dan relate dari novel ini yaitu tentang dinamika di tempat kerja seperti:

  • Pegawai baru yang sering disepelekan
  • Rekan kerja yang awalnya baik ternyata menjelek-jelekan di belakang
  • Adanya affair antara atasan dan bawahan
  • Penggunaan barang kantor untuk urusan pribadi

Overl all 3/5


Novel ini bisa dibeli di Shopee Penerbit Haru Official Shop dengan harga Rp 65.550. Tapi aku beli di Shopee Republik Fiksi Official Shop dengan harga Rp 58.650. Original dan lebih murah, tapi sayang bukunya kurang sempurna. Ada bagian yang tertekuk, cetakan di setiap halaman miring, dan kertasnya bergelombang. Jadi bikin mood kurang baik waktu bacanya.

Indonesian Historical Novel: Lebih Putih Dariku

 

A novel by Dido Michielsen and translated by Martha Dwi Susilowati
Published by Marjin Kiri 2022, 288 pages, Shop at Solusi Buku Official Shop, 73k


January 09, 2024

ENDOMETRIOSIS: Therapy

 


Last Friday, November 10 2023, I visited Dr. Nono to find out the progress of my endometriosis.

I was surprised! After doing therapy by taking pills every day, the size of my endometriosis is smaller than before. Now it is 2.8 x 1.4 cm. I’m very happy and grateful.

Dr. Nono, Sp.OG (K) suggested me to continue therapy by taking medication for the next three months. After that, I was allowed another ultrasound to see the results.

Fyi, during this therapy, I didn’t menstruate. It feels really good without pain and ceamps like the previous months. However, I have migraines and moody.

ENDOMETRIOSIS: Akhirnya Kumenemukan Cara Pencegahan Pertumbuhannya


Waiting for dr. H. Nono Rasino, Sp.OG, Subsp. FER


13 Oktober 2023

Harusnya aku mulai menstruasi dua-tiga hari lagi. Tapi pagi ini kok rasanya udah mules, kram, sampai nggak sanggup lagi ke kantor. Akhirnya kuputuskan buat izin nggak masuk kerja. Berusaha ngurangin sakit dengan minum ibu profen as always, kompres, dan berendam air panas. Nyatanya sakitnya tetap nggak berkurang. Pasca dzuhur, aku minta bantuan Anna buat nemenin ke dokter. Ngikutin saran temen kantor, aku ke RS Afdila Cilacap. Setelah daftar administrasi yang nggak pake lama, aku nunggu dokter dateng. Asli deh, dari duduk baik biasa, sampai tiduran di sepanjang kursi tunggu, jongkok, agak membungkuk, rasanya nyeri luar biasa.


Hasil USG 12 Oktober 2023

Untunglah dr. Nono segera datang dan masuk pasien-pasien dengan nomor antrean sebelumku. Aku dapat nomor antre 8, dan segera masuk saat namaku dipanggil. Perawat mempersilakanku berbaring dan bersiap untuk USG. Waktu dr. Nono melakukan USG, aku nerocos menceritakan rasa nyerinya, seberapa nyeri, dan obat-obatan yang aku konsumsi selama ini (Ibu Profen dan Asam Mefenamat). dr. Nono menanggapi apa yang kusampaikan, beliau bahkan menanyakan kapan mulai nyerinya, apakah dari saat mens pertama kali, apakah rasa nyerinya terus bertambah.

Selesai USG, dr. Nono menjelaskan adanya endometriosis (kista cokelat) dengan ukuran 3.37 cm x 2.11 cm di ovarium sebelah kiri (hasil USG sebelum-sebelumnya katanya di sebelah kanan), tapi nyerinya memang di perut bagian bawah dan pinggang kiri belakang. Selalu di situ. dr. Nono menyampaikan nggak perlu ada tindakan karena jenis endometriosisnya jinak. Tapi menimbulkan sakit yang luar biasa selama menstruasi. Salah satu cara untuk mencegah pertumbuhan endometriosis ini dengan mengkonsumsi obat hormon. Aku sempat nggak setuju, karena obat-obatan itu bikin mual dan migrain. Untungnya dr. Nono adalah pendengar yang baik (meski bicaranya kadang nggak jelas dan selalu diulang oleh perawat agar bisa diterima pasien dengan jelas hihi), beliau memberikan obat-obatan berikut:

Dienogest
  1. Dexketoprofen Trometamol: Obat pereda nyeri yang biasa digunakan pasca operasi. Aku dikasih ini setelah mengeluhkan pain killer favoritku Ibu Profen dan Asam Mefenamat udah nggak ngefek. Padahal sekali minum 2 butir, sehari bisa 6 butir (atau bahkan lebih) dari keduanya itu.
  2. Dienogest: Obat endometriosis yang cara kerjanya harus diminum setiap hari pada jam dan waktu yang sama untuk mencegah pertumbuhan endometriosis. Obat ini harus diminum hingga 3–6 bulan untuk tahu apakah ada penyusutan ukuran endometriosisnya atau nggak. Efeknya nggak akan menstruasi selama itu. Nggak baik kan, ketika darah kotor yang seharusnya dikeluarin ini malah dicegah. Awalnya aku menolak obat ini, khawatir akan mual dan migrain juga takut badan menjadi melar selama mengkonsumsinya, seperti yang kurasakan ketika konsumsi Lutenyl dan Yasmin. Tapi dr. Nono meyakinkan untuk mencobanya dan kembali lagi untuk kontrol sebelum obat ini habis (sebelum sebulan).

17 Oktober 2023

So far obat Dexketoprofen Trometamol cocok banget di aku. Bener-bener di hari kedua dst aku nggak ngerasa sakit seperti biasanya. Ampuh. Begitu juga dengan Dienogest, nggak ada mual atau migrain setelah konsumsi obat itu. Amanlah. Nggak ada lagi gumpalan darah keluar yang bikin nyeri luar biasa, tapi memang darah mens keluar nggak sebanyak biasanya. Bahkan di hari kelima ini udah mau berhenti. Sepertinya aku akan setuju dengan saran dr. Nono untuk konsumsi Dienogest selama 3–6 bulan ke depan. Let see… hihi




ENDOMETRIOSIS: USG Lagi USG Lagi


Terakhir kali ke dokter Obgyn kayanya November 2022 lalu. Setelah itu aku merasa bodo amat dengan pertumbuhan endometriosis yang tinggal di salah satu ovariumku. Seolah rasa nyeri luar biasa yang ditimbulkannya sudah menjadi hal lumrah buatku sendiri. Sampai pada beberapa bulan terakhir, aku merasa nyeri dan kram perut semakin menjadi. Bahkan sakitnya kurasakan hingga H+2 setelah menstruasi.

Nggak tahan dengan sakitnya, obat pereda nyeri semakin nggak ampuh, kompres, berendam air panas juga nggak ngaruh. Kuputuskanlah untuk cek USG lagi ke dr. Usw*** Sp.OG. Mengejutkan sekali hasilnya, selain endometriosis pada ovarium, ternyata ditemukan juga kista di dalam rahim. Hasil ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Selain USG, aku juga tes urin, buat memastikan ISK atau nggak. Hasil urin baik, nggak ada masalah. Dokter nggak menjelaskan lebih, hanya disarankan buat mengurangi makanan olahan susu dan turunannya, juga junk food.


Aku merasa kurang puas. Pain killer yang diresepkan cuma kuminum sekali, karena nggak ngaruh. Sementara obat hormon nggak kutebus karena efek sampingnya bikin mual. Agak kesel sih, padahal sebelumnya udah kusampaikan ke dokter tentang hal ini (pada tahun 2018 pernah konsumsi obat hormon dan itu bikin mual dan migrain juga bikin badanku semakin membesar).


Sepertinya perlu cek lagi ke dokter lain biar tau hasilnya lebih jelas dan tindakan apa yang perlu dilakukan.


Cilacap, 27 September 2023

November 12, 2023

Merayakan Hari Ayah Tanpa Bapak

 


Baru saja nonton YouTube Makna Talks https://youtu.be/ZAsmI2Hftn4?si=h6dFUioWTBlrcZOI dan rasanya ingin menuangkan rindu dan rasa lain-lain untuk Bapak.

Bapak seorang yang keras dan sangat memegang kuat prinsipnya. Hubunganku dengan bapak tidak sehangat ayah dan anak perempuan pada umumnya. Bapak bukan tipikal yang menunjukkan kasih sayangnya dengan kata apalagi pelukan. Hubunganku dengannya seperti love-hate relationship. Mungkin malah lebih banyak saling bencinya, bapak benci dengan keras kepalaku, ngeyelku, yang padahal itu warisan darinya. Haha.

Beberapa momen yang masih kuingat tentangnya dan yang bisa kubagikan:

Saat kecil dulu, sepupuku meminjam sepeda miniku tapi aku enggan memberikannya, bapak membujuk agar aku mau berbagi dan menjanjikannya membelikan sepeda yang baru (sambil memelukku, satu-satunya pelukan yang kuingat).

Saat kecil dulu, aku merasakan sayangnya bapak. Tapi tidak lagi setelah ada adikku. Semua-semua untuk adikku. Pernah aku dan adikku berebut sepeda, dengan terang-terangan bapak memarahiku dan menyatakan bahwa sepeda baru itu dibeli memang untuk adikku. Sedih kali…

Saat kecil dulu, aku tergolong anak yang bandel, susah dikasih tau, menjengkelkan. Sering bapak memarahiku, bahkan pernah memukul juga. Dan parahnya, aku pernah dikurung di gudang karena tidak berhenti menangis. Menangisku pun itu karena ulahku sendiri juga. Wkwk. Aku benci bapak, galak dan jahat.

Bapak selalu subuh di mushola. Sepulang dari mushola, bapak masuk kamar, membangunkan dengan lembut dan mengusap-usapku (yang dikira adikku). Aku pura-pura masih tertidur, hampir aku bahagia kok tumben bapak melakukan itu, rupanya salah kira. Aku yang sedih tapi juga tidak ingin membuatnya malu, membiarkan diri diam.

Waktu aku kelas enam SD, bapak mengajakku mencuci motor di SD-ku yang sumurnya terbuka untuk siapapun. Dan setelah itu bapak mengajariku naik sepeda motor. Ngeeengg ~

Masuk SMP, bapak tidak menemaniku mendaftar dan justru meminta kakakku untuk mengantarkanku. Sedihnya, saat teman-teman yang lain diantar bapak ibunya. Lebih menyedihkan, dari SMP-SMA, bapak tidak pernah mengambilkan raporku (ku ingat ayah Ikal dan Lintang dalam novel Laskar Pelangi yang rela jauh-jauh mengayuh sepada ontelnya mengambil rapor dengan bangga, aku iri). Bapak ada marah, ketika aku tidak mau menuruti ingginnya untuk melanjutkan di SMA yang dekat rumah saja.

Saat orang tua teman-temanku bangga karena anak-anaknya lulus masuk perguruan tinggi, bapakku justru marah karena aku bersikeras melanjutkan kuliah (waktu itu aku lolos SNMPTN). Aku ingat bagaimana aku memaksa, meyakinkan, negosiasi, agar diizinkan lanjut sekolah. Buat bapak, setelah SMA ya kerja. Buat apa kuliah. Ya… saat itu ekonomi bapak sedang tidak baik (memang seperti itu selalu sepertinya wkwk). Atau mungkin bapak melarangku kuliah karena dulu impiannya menjadi tentara tidak diizinkan orang tuanya. Aku ingat jelas bagaimana bapak melemparkan setumpuk uang ratusan ribu karena jengkel aku tetap mau kuliah (waktu itu aku bilang pinjam uangnya dulu, Pak. Kalau aku lulus beasiswa, aku ganti uangnya).

Marah bapak agak berkurang ketika aku kuliah (tentunya dengan beasiswa). Bapak rutin menelepon setelah subuh untuk membangunkan dan memastikan anak perempuannya bangun pagi.

Meski marahnya berkurang, bukan berarti kami tak lagi kelahi. Sering aku pulang saat weekend (aku kuliah di luar kota), tapi sampai rumah malah ribut. Ada aja problemnya. Sampai-sampai keluar dari mulut bapak “ngapain pulang, kalau di rumah bikin ribut terus, pergi saja”. Sakitnya ya Tuhan… diusir nih? Giliran nggak pulang beberapa minggu, bapak sedikit tidak enak badan dan minta aku pulang. Kangen, Pak? wkwk.

Bagaimanapun, bapak baik juga kok. Bapak selalu mengantar ke depan ketika aku akan balik ke Solo dan menemaniku menunggu bis. Bapak juga lah yang akan menjemputku saat aku pulang untuk liburan weekend.

Akhirnya aku lulus, kelulusanku sepertinya membuatnya sedikit bangga. Alhamdulillah, setidaknya aku tidak membuatnya marah melulu.

Aku memutuskan untuk ikut kegiatan volunteering yang cukup makan waktu lama, setahun. Aku agak takut kalau-kalau ditempatkan di Kalimantan atau Papua. Tapi bapak meyakinkan, “kalau kamu baik, pasti dipertemukan dengan orang-orang baik pula”. Wow bijak kali bapakku. Karena wejangannya itu, aku jadi berani, pergi jauh untuk pertama kalinya dalam rentan waktu yang lama.

Sepulang dari Papua, aku mendapatkan pekerjaan di Halmahera Timur. Ketika aku minta izin dan pamit ke bapak, dengan entengnya beliau bilang “ya, hati-hati”. Astaga, antara bahagia karena diberi kepercaan bahwa aku bisa dan berani, tapi sedia juga, kaya nggak ada khawatirnya bapak tuh sama anak perempuannya ini. Wkwk.

Cukup lama bekerja di Indonesia timur yang cukup jauh, akhirnya pada tahun 2017 untuk pertama kalinya bapak minta aku pulang. Ada sedih di ujung telepon ketika aku sampaikan, “dua bulan lagi ya Pak, biar genap setahun di sini, nanti Februari 2018 aku pulang”.

Aku tepati janjiku. Aku resign untuk menamani bapak di hari tuanya yang sudah sakit-sakitan. Bapak diabetes.

Hubunganku dengan bapak kini membaik. Aku paling senang ketika hari Jumat tiba, bapak selalu minta tolong dipotongi kukunya. Sweet kali moment itu. Terkadang, aku juga mewarnai rambutnya yang sudah beruban memutih semua. Bapak terlihat lebih muda dan segar ketika rambutnya kembali hitam.

Sore-sore kami sering duduk-duduk di teras, bercerita sembari menanti ketoprak keliling. Karena aku dan bapak makannya sedikit, jadi kami berbagi satu bungkus untuk berdua. Sweet moment lagi nih. Begitu juga setiap Sabtu, aku ke pasar tradisional dan membeli lotek legendaris. Dan kami pasti berbagi satu bungkus untuk berdua.

Bapak rela berbagi makanan-makanan itu, tapi tidak dengan mie gelas. Begitu cintanya dengan mie gelas, kalau bapak beli serenteng itu akan disimpan baik-baik dan dimakan sendiri. Wkwk. Lucu, tapi ngeselin. Sudah diberitahu harus mengurangi makan mie gelas demi kesehatannya, tapi tetap saja ngeyel. Hmmm…

Bapak semakin renta, pernah kami pergi untuk membeli jamu, kini aku yang membawa motor dan bapak duduk di belakang. Kini aku yang menggandeng bapak menyeberang jalan. Sedih kalau ingat itu. Pernah juga kami pergi ke sawah, bapak kangen lihat ijo-ijo, lagi-lagi aku yang membawa motoryna, penglihatan bapak sudah berkurang. Tak lagi kuat seperti dulu. Huhu.

Beberapa hari di rumah setelah resign, aku ditawari project di Bintuni. Bapak mwngizinkan, karena hanya dua minggu saja. Sepulang dari Bintuni, aku mengabari Bapak ketika sampai di Bandara Sultan Hasanudin. Ada khawatir di ujung telepon ketika bapak tau aku sendirian.

Lanjut lagi, ada project ke Kalimantan (Palangkaraya) untuk beberapa hari saja. Perjalanannya cukup panjang, dari Banjarmasin, kurang lebih 10 jam via darat, 2,5 jam menyusuri sungai Barito. Sinyal tidak stabil, bapak tidak bisa menghubungiku dan aku lupa tidak mengabari bapak. Sepulang dari sana, ketika taksi yang mengntarkanku belum juga keluar dari halaman rumah, dan koperku juga masih kujinjing, bapak keluar dengan tergopoh dan menangis. Benar-benar menangis mengkhawatirkanku. Katanya, “buat apa bekerja sekeras ini, kamu tidak ada tanggungan apapun”. Astaghfirullah, kukira selama ini bapak baik-baik saja dengan kepergianku ke sana kemari. Mungkin ini kumpulan kekhawatiran dan kesedihan yang sudah menumpuk bertahun-tahun.

Sejak itu, aku putuskan untuk bekerja di Jawa saja, agar lebih dekat dan bisa menemani bapak.

Tak lama, Juni 2018 bapak berpulang. Aku belum bisa ceritakan. Rasanya sebentar sekali waktu manis kami bersama.

Al-fatihah untuk bapak. Selamat hari Ayah.

12 November 2023

February 01, 2019

USG TRANSREKTAL LAGI, SAKIT CUY!



...Setelah kurang lebih satu bulan tidak mengkonsumsi Lutenyl, akhirnya pada minggu ke dua bulan Januari, saya mengalami menstruasi (8 - 12 Januari 2019) selama lima hari. Biasanya sih tujuh hari. Berhubung Lutenyl ini ternyata tidak dijual bebas di apotik, saya pikir saya harus mengunjungi dokter lagi untuk mengecek keadaan si kista manisku dan agar tahu langkah apa lagi yang harus saya jalani untuk setidaknya mencegah kista tidak semakin membesar. 


17 Januari 2019

Saya mengunjungi RSUD Prembun (setelah minta rujukan dari faskes I) dan bertemu dengan dr. Farah sebagai pengganti dr. Tika. Pada awal pertemuan ini, saya ceritakan dulu perihal kista yang saya miliki dan segala macamnya.

Lantas... USG transrektal lagi. Yeaaayyyy!!!
Mulanya saya kira di USG transrektal yang kedua ini akan berjalan lebih baik, namun karena saya tegang, agak takut, dan mungkin belum senyaman dengan dokter sebelumnya, maka rasanya jadi cukup ngilu. Bayangkan saja, transduser sebesar jempol tangan masuk ke dalam rektum. Hmmm... selama alat itu bekerja, saya hanya berdoa agar kistanya mengecil dong pleaseeee... dan segeralah alat itu menjauh darikuuu haha

Dan benar saja, Alhamdulillah... kista di sebelah kanan kini mengecil menjadi 3,02 cm. Meskipun berkurangnya hanya 0, sekian cm tapi rasanya senang sekali. Jadi ingat pertama USG, ukuran kista ini hampir 5 cm.


Tapi, tapi... ada apa di bagian perut sebelah kiri?
Selama ini, setiap menstruasi yang sakit di bagian perut sebelah kiri, tapi kistanya di sebelah kanan. Dan... ternyata, ada pula sebuah kista di sebelah kiri. Apaaa?? yang benar saja? Rupanya benjolan yang terlihat kabur pada USG pertama ini adalah kista juga. Melihat ekspresi saya yang kaget, dr. Farah menenangkan, bahwa kista tersebut tidak berbahaya karena ini merupakan kista fungsional, mungkin isinya juga darah. Fyuuuuhhhh... sedikit lega. 

Akhirnya proses USG pun selesai. Saya melihat sedikit bercak darah di kondom transduser. Ngeri. 

Kemudian, saatnya dokter menjelaskan. Saya paling suka momen ini, karena bisa menyampaikan segala keluhan secara gamblang dan meminta dokter untuk menjelaskan keadaan saya secara terbuka sampai benar-benar saya pahami. Penting nih ya! Bahwa setiap pasien berhak tahu keadaan dirinya sedetail mungkin. 

Mengenai obat yang saya konsumsi sebelumnya, Lutenyl, dr. Farah menyayangkan karena obat tersebut menghentikan siklus menstruasi. Sebaiknya, menstruasi tetap terjadi setiap bulan. Selain itu, efek samping dari Lutenyl yang saya rasakan adalah berat badan meningkat dan perut menjadi besar (membengkak) Oleh karena itu, dr. Farah menyarankan untuk beralih ke Yasmin. Yasmin ini semacam pil KB yang isinya 21 tablet berbahan aktif yang mengandung preparat hormon (drospironone dan ethynilestradio) dan 7 tablet berbahan nonaktif yang tidak mengandung bahan preparat hormon (plasebo atau pil kosong). Yasmin ini kalau diibaratkan seperti deterjen Attact, yang terbaru dan terampuh membasmi kotoran. Haha. Balik ke Yasmin, pil ini tidak berdampak pada naiknya berat badan, justru mengurangi jerawat, menstruasi tetap berjalan, dan mengurangi anemia. Tetapi, harganya jauh lebih mahal yaitu sekitar Rp 220.000,00 (kalau Lutenyl sih gratis dari rumah sakit) hehe.


Mendengar sekilas keterangan dr. Farah tentang Yasmin, saya iya-iya saja. Padahal yang dipahami hanya minum setiap hari, sebaiknya diminum saat malam sebelum tidur pada jam yang sama, dan saat menstruasi pun tetap diminum. Lalu meluncurlah ke apotik untuk membelinya dan tidak lupa meminta keterangan dari apoteker. Berharap mendapat pencerahan, eh tapi kok saya malah bingung dengan cara penggunaannya. Apalagi setelah membaca peringatan penggunaan untuk penderita maag dan migrain. Wah! tambah galau nih, mau diminum atau nggak. Sayang cuy, mahal. Haha.
...Hingga beberapa hari kemudian saya tidak berani untuk meminumnya. Lalu saya mencoba untuk menghubungi dr. Tika dan meminta sarannya atas kondisi tersebut. Dan, barulah pada 30 Januari 2019, saya berani menjalin kasih dengan Yasmin dengan catatan, jika migrain, berhenti mengkonsumsinya.

Gitu... guys...


Sekian dulu cerita hari ini... semoga bermanfaat, terima kasih.









November 30, 2018

KISTA COKELAT PART III, USG TRANSREKTAL (MELALUI ANUS)

Hulaa...


Apa kabar kista cokelat?


Sudah mengecilkah dirimu?


Masih betahkah tinggal di dalam perutku?


15 November 2018


15 November lalu, saya menemui dr. Tika untuk mengecek perkembangan kista cokelat yang ada di dalam perut saya. Saya agak takut, sebab beberapa hari sebelumnya saya mengalami menstruasi. Saya pikir, hal ini disebabkan oleh berhentinya saya mengonsumsi lutenyl (karen habis). Sengaja nggak beli, karena penasaran juga kalau nggak minum obat jadinya gimana. Hihi. Tapi mens-nya nggak seperti biasa, hanya keluar sedikit darah (di pagi hari) berwarna merah tua sekali hampir hitam dan pekat. 

Seperti yang sudah-sudah, untuk ke sekian kalinya saya di USG melalui perut (USG abdominal). Hasilnya sama. Lalu dr. Tika menyarankan untuk USG melalui anus (USG Transrektal) agar hasilnya lebih jelas. Beliau tidak menyarankan USG melalui vagina (USG transvaginal) karena saya masih virgin :)

Mulanya saya menolak saran dokter. Selain malu, saya juga takut sakit dan berdampak nantinya. Namun setelah dr. Tika meyakinkan, dan saya juga sangat penasaran dengan perkembangan kista ini, maka saya setuju dengan catatan tidak ada laki-laki di dalam ruangan itu. USG pun dimulai. dr. Tika memberikan gel pada transduser yang telah dibungkus kondom. Gel ini mampu mengurangi rasa sakit ketika transduser dimasukan ke  dalam anus. Selama proses berlangsung, rasanya aneh seperti ada yang mengganjal, apalagi karena baru pertama kali, saya cukup tegang. Memang perlu persiapan mental yang matang dan mengatur nafas serileks mungkin agar USG ini berlangsung dengan lancar.

Beginilah hasilnya, 




Alhamdulillah, ukuran kista semakin mengecil yakni 3,75 cm (mulanya 4,9 cm). Betapa senangnya hatiku mengetahui kabar baik ini. Nggak nyesel deh, USG melalui anus. Hihi. Tapi... tapi... seperti yang saya bilang di awal tadi, dengan USG transrekal ini, hasilnya lebih jelas. Lebih jelas terlihat adanya benjolan juga di sebelah kiri. huhu. Tapi dokter belum bisa memastikan apakah itu kista juga atau bukan, karena gambarnya kabur. Semoga ya, ini bukan kista. Amin.

Setelah USG, dokter menjelaskan agar saya tidak melakukan operasi. Mengapa? dikhawatirkan ketika operasi, kista ini akan pecah dan cairan cokelat yang ada di dalamnya akan lengket dan menempel di mana-mana. Lebih baik, konsumsi obat dulu hingga menikah nanti. Dokter masih memberikan lutenyl seperti sebelumnya. 

*Fyi, selain lutenyl saya juga mengonsumsi bless tea, salah satu jenis teh yang dibuat dari pucuk daun teh termuda. Katanya teh ini punya manfaat baik untuk penyakit-penyakit dalam (Ini saran mamake, jadi ya ikuti saja. Namanya juga ikhtiar ya kan...)

Ngomong-ngomong, pertemuan dengan dr. Tika kali ini merupakan pertemuan terakhir, karena dr. Tika akan dipindahtugaskan di RSCM. Sedih sih, karena sudah nyaman sekali dengan dr. Tika. Saking baiknya, beliau pun memberikan no.tlp pribadinya agar sewaktu-waktu saya bisa konsultasi dengannya :)



October 24, 2018

KISTA COKELAT PART II

Masih tentang kista cokelat yang bersemayam di dalam perut saya, yang membuat khawatir jika nanti ******************************* 

Hussh! tidak boleh membayangkan hal buruk yang belum terjadi. Harus selalu positive thinking, El :)
Baik, melanjutkan cerita saya sebelumnya ya...


27 September 2018
Dr. Tika menyarankan untuk kontrol kembali pada 4 Oktober 2018, namun karena pada hari tersebut saya harus keluar kota, juga karena pada minggu pertama penggunaan obat saya mengalami nyeri perut setiap malam, maka saya ajukan kontrol pada 27 Oktober 2018. 
USG LAGI.
Hasilnya masih sama, ukurannya pun. (hasil USGnya ndak diprint :D). dr. Tika hanya memberikan obat nyeri perut dan Lutenyl untuk bulan ke dua. 
Baiklah...
Obat nyerinya masih utuh, alhamdulillah nggak nyeri lagi :)


3 - 6 Oktober 2018

DARAH APA INI?? 
Saya sangat kaget menjumpai bahwa saya menstruasi. Mulanya ragu, karena darah yang keluar hanya sedikit dan berwarna gelap, pekat. Perut pun tidak sakit sama sekali. Seharusnya saya tidak akan mengalami menstruasi selama mengkonsumsi Lutenyl. Saya agak takut saat itu, khawatir terjadi hal-hal yang tidak-tidak. 
Kenapa bisa begini? Kenapa keluar darah?
Setelah mengingat-ingat, rupanya dua hari berturut-turut sebelumnya saya terlambat minum obat. Jadwal minum obat seharusnya jam 09.00 pagi, namun saya minum pada jam 12.00 siang. Hmmm...
Semoga hal ini tidak memperburuk keadaan si kista cokelat manisku. hehe
Seperti mendapat teguran, kini saya lebih disiplin dan tertib minum Lutenyl. 

Selanjutnya, saya akan bertemu lagi dengan dr. Tika pada 15 November nanti. Mohon doanya ya... :)








September 17, 2018

Dua Kali USG, Hasilnya Sama: KISTA COKLAT (ENDOMETRIOSIS)


Kamu perempuan? belum menikah? saat menstruasi merasakan nyeri luar biasa tidak tertahankan? sampai guling-guling?
SAMA. Saya juga.

Sejak SMA, setiap menstruasi saya selalu merasakan sakit perut yang sangat luar biasa di bagian kiri bawah. Ditambah lagi, bagian pinggang juga rasanya pegal sekali. Saban hari pertama menstruasi selalu izin ke UKS. Hal ini berlanjut hingga kuliah dan bahkan sampai saat ini. Saya selalu izin untuk tidak bekerja pada hari pertama menstruasi setiap bulannya. Memang tidak sampai pingsan, tapi bikin guling-guling tidak karuan. Seperti kram lalu diremas-remas, mau ganti posisi tidur saja susah setengah mati. Apalagi buat jalan, harus membungkuk pelan-pelan.

Berbagai usaha saya lakoni demi mengurangi dahsyatnya rasa nyeri. Dari beragam obat-obatan, jamu kunyit asem, jamu kunyit putih, pijat, dan kompres air panas. Namun, pada kenyataannya rasa sakitpun tetap eksis. Dan semakin menjadi.

Saya penasaran, sebenarnya ada apa dengan perut saya? Apakah ini wajar? Karena banyak perempuan merasakan hal yang sama. Apakah ini normal? Selama ini siklus menstruasi saya sangat teratur. Lalu mengapa?

Demi menjawab segala kegelisahan dan kekhawatiran, maka saya memutuskan untuk cek ke dokter kandungan. Selama ini saya enggan mengecek karena katanya nyeri seperti ini akan hilang ketika sudah menikah nantinya, mungkin maksudnya setelah melakukan hubungan seksual.

6 September 2018

Ini pertama kali saya bertemu dengan dokter kandungan. Setelah mendapat rujukan dari Faskes I, saya menemui dr. Tika, SpOG. Langsung saja saya disarankan untuk melakukan USG transrektal, melalui anus dengan alasan karena saya masih virgin dan untuk mendapatkan hasil yang lebih jelas. Saya memang berniat melakukan USG, namun jika harus melalui anus, saya tidak siap. Apalagi setelah membaca beberapa blog mengenai USG melalui anus, rasanya jadi takut membayangkan alat masuk melalui anus. Daripada begitu, saya memilih USG transabdominal saja, dengan menempelkan probe pada bagian luar perut. 

Dan beginilah hasilnya, ditemukan bulatan sebesar 4,75 cm di perut bagian kanan yang menurut dokter itu adalah kista coklat. Ukuran ini sudah tergolong besar, karena normalnya kurang dari 3 cm. Saya masih ragu dengan hasil yang disampaikan oleh dokter, benarkah? dokter yakin 90%. Saat itu rasanya seperti tidak percaya. 

Dokter menjelaskan lebih detail mengenai kista. Kista sendiri terdiri 2 macam, yakni fungsional dan patologis. Kista patologis terdiri dua jenis, yaitu kista jinak dan ganas. Berdasarkan keluhan yang saya alami, kista di dalam perut saya tergolong kista jinak yakni kista coklat (endometriosis). Kista coklat berisi cairan lengket seperti coklat yang bisa berpindah-pindah lokasi, menempel ke bagian-bagian organ di dalam perut. Kista ini bisa tumbuh lagi sekalipun telah dilakukan operasi. Maka dari itu, dokter menyarankan untuk mengkonsumsi obat terlebih dahulu. 

Penjelasan dokter mengenai kista

Dokter memberikan "LUTENYL" yang memiliki fungsi seperti pil KB,  menghentikan menstruasi sesaat. Obat ini harus saya minum setiap hari pada jam yang sama setelah makan selama tiga bulan. Dengan begitu, produksi hormon esterogen (diduga pemicu kista dan rasa sakit yang luar biasa) yang berlebih dapat berkurang. Efek sampingnya juga hampir sama seperti pil KB, menambah berat badan (ini sih salah satu faktor yang membuat saya enggan mengkonsumsinya hihi) dan setiap malam, perut  rasanya sedikit nyeri. Sebenarnya ada ketakutan pada obat ini, takut ada pengaruhnya saat mau hamil nanti. 

12 September 2018

Meskipun hasil USG I menunjukkan adanya kista, namun saya belum juga percaya. Demi meyakinan diri, saya melakukan USG II di klinik dr. Diana, S.pOG. Daaan... hasilnya pun sama. Terdapat kista coklat, hanya saja lokasi dan ukurannya yang berbeda. Karena kista jenis ini memang memiliki sifat berpindah tempat. Seperti dr. Tika, dr. Diana tidak menganjurkan operasi, tetapi menyarankan untuk mengonsumsi obat "YASMIN" yang mana obat ini untuk mengurangi rasa sakit dan tetap menstruasi setiap bulannya. Saya rasa ini lebih baik, namun karena saya masih minum "LUTENYL" maka "YASMIN" saya tunda dan saya rencanakan untuk bulan kedua setelah saya konsultasikan dengan dr. Tika.

Tiga bulan yang akan datang, pada Desember awal nanti, saya akan melakukan USG lagi untuk mengetahui perkembangan kista ini. Semoga ukurannya mengecil. Amin.
Jika kamu mengalami sakit yang luar biasa dan tidak tertahankan saat menstruasi, saya sarankan untuk segera cek ke dokter kandungan dan melakukan USG. Lebih baik tahu sejak dini, agar dapat menangani dengan segera. :) 

Mengenai biayanya tidak perlu dikhawatirkan, silakan gunakan fasilitas kartu BPJS :)


April 30, 2016

ESAI CALON PENGAJAR MUDA



Halo gaess... H-1 menuju pendaftaran Pengajar Muda (PM) angkatan XIII Indonesia Mengajar nih. Sudah siapkah kamu untuk menjadi the next PM ?? Hehe

Pada postingan sebelumnya, MAU JADI PENGAJAR MUDA? saya menuliskan tahapan-tahapan seleksi menjadi PM. Nah untuk kali ini, saya mau berbagi tentang esai saya ketika mendaftar PM. Esainya saya persingkat ya, ada beberapa hal yang sebaiknya disensor. Hihi

  • Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?
Motivasi saya bergabung menjadi PM IM, saya ingin belajar dan berbagi. Dari kecil saya bercita-cita untuk menjadi guru. Semakin besar cita-cita saya semakin bertambah, mulai dari pembaca berita, wartawan, dokter, bidan, ahli gizi, dan semakin lama mengerucut lagi. Saya memang ingin menjadi guru. Saya mendapatkan kesenangan ketika dan setelah saya mengajar.
 
Kesulitan saya dalam mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, memotivasi saya menjadi pengajar muda. Saya ingin berbagi dengan mereka yang mungkin tidak berkesempatan untuk mengenyang pendidikan di bangku sekolah karena hambatan keuangan atau bahkan ijin dari orang tua seperti saya.
Sebagai pengajar, saya ingin mengamalkan ilmu saya kepada mereka, anak-anak harapan bangsa. Tidak hanya mengajar, saya pun ingin belajar dari mereka.

Selain hal itu, motivasi saya berasal dari mengikuti Solo Mengajar. Meskipun saya menjadi volunteer Solo Mengajar belum lama, tapi saya mendapat pelajaran yang begitu banyak dan berharga. Saya senang bermain dan belajar dengan anak-anak kecil. Kebahagian, kepuasan, dan pelajaran yang saya dapatkan dari Solo Mengajar semakin membuat saya penasaran dengan pelajaran yang akan saya dapatkan jika saya mengikuti Indonesia Mengajar. Saya ingin berbagi hingga ke pelosok nusantara.
Saya suka tantangan. Daerah penempatan PM IM yang terpencil, pelosok, tidak ada listrik, air susah, jalan bebatuan, tidak ada signal, bukan tidak menghalangi tekad saya.
  • Ceritakan pengalaman anda ketika berusaha mencapai kesepakatan dalam situasi yang sulit di organisasi/pekerjaan.
Saya mengalami kesulitan untuk mencapai kesepakatan baru-baru ini. Saya sebagai kepala sekolah Taman Cerdas Sumber Solo Mengajar dan teman-teman volunteer mengadakan outing class untuk penutupan kelas pada semester ini. Kami mengajak adik-adik Solo Mengajar berkunjung ke Monumen Pers Nasional Surakarta menggunakan kereta kelinci.

Saya berbagi tugas dengan volunteer lainnya, ada yang sebagai koordinator penanggung jawab acara, transportasi, perijinan, konsumsi, dan lain sebagainya. Seminggu pasca pembagian tugas ini, saya belum mendapat laporan hasil dari mereka para koordinator. Saya sudah mengingatkan berkali-kali, namun hasilnya masih sama. 

Akhirnya saya dan salah satu teman volunteer memutuskan untuk bergerak. Saya mengajak teman saya untuk mencari kereta kelinci sebagai alat transportasi menuju Monumen Pers Nasional. Kemudian kami mengunjungi Monumen Pers untuk survei tempat. Ternyata rencana kunjungan yang akan diadakan pada hari Minggu mungkin akan ditunda, karena Monumen Pers hanya buka pada hari kerja saja. Selain itu, pada kunjungan hari kerja mendapatkan fasilitas lebih dan mendapat snack. Ini akan meminimalisir pengeluaran.

Kemudian saya melaporkan hasil survei kepada volunteer lainnya. Tujuannya, selain memberitahukan, saya juga menginginkan sebuah solusi untuk keberlangsungan acara ini. Namun apa yang saya harapkan tidak terwujud. Rapat online yang kami lakukan menggunakan sebuah akun sosial media tidak berjalan lancar. Hanya beberapa volunteer saja yang aktif merespons. Padahal untuk rapat secara langsung tidak memungkinkan karena waktu yang sudah mendekati hari H, serta kesibukan masing-masing volunteer yang berbeda-beda. Hal ini menimbulkan banyak saran dan pendapat dari teman-teman volunteer. 

Saya sempat merasa kesal, karena tiba-tiba ada volunteer yang mengusulkan untuk mengubah agenda, di tempat yang berbeda, yang belum tahu pastinya. Saya merasa usaha saya tidak dihargai.  Sebenarnya tidak ada masalah, kalau usulnya tidak asal, mau menangani bersama. Tidak hanya usul kemudian memasrahkan kepada yang lainnya.

Saya sudah mengingatkan untuk fokus pada rencana awal terlebih dahulu. Kalau kunjungan ke Monumen Pers berjalan dengan lancar, baru kemudian mengadakan kegiatan outbond. Saya bersyukur setelah agak lama berdepat kemudian beberapa volunteer menyetujui untuk fokus pada rencana awal. 

Lalu, saya putuskan untuk menunda rapat dan mencari solusi dengan konsultasi dengan direktur Solo Mengajar terkait kunjungan ke Monumen Pers Nasional, keamanan transportasi menggunakan kereta kelinci di jalan raya, dan lain sebagainya.

  • Jika ada, ceritakan pengalaman Anda dalam merintis suatu kegiatan/membuat perubahan. Apa dampak dari tindakan tersebut?
Awal tahun masuk perkuliahan di Universitas Sebelas Maret Surakarta, mahasiswa yang berasal dari daerah saya (Kebumen) berkumpul. Perkumpulan itu hanya pertemuan biasa untuk saling mengenal.
Kemudian saya dan teman-teman angkatan saya memiliki ide untuk mendirikan sebuah ikatan mahasiswa yang berasal dari Kebumen yang kuliah di Surakarta. 

Sebenarnya ikatan mahasiswa Kebumen di Solo (IMAKES) sudah didirikan, hanya saja tidak berjalan dan saya serta teman-teman ingin menghidupkan kembali IMAKES tersebut. Dalam pembentukan organisasi tersebut, saya dan teman-teman saya mengalami banyak kendala. Salah satunya adalah pesimisnya kakak-kakak tingkat tentang komitmen kita. Mereka tidak yakin bahwa kita akan bisa meneruskan organisasi tersebut.

Kemudian saya dan teman-teman saya meyakinkan mereka bahwa kami siap melanjutkan dan menghidupkan kembali organisasi tersebut. Kami siap menciptakan tali persaudaraan agar mahasiswa Kebumen yang berada di Solo bersatu dan melakukan kegiatan untuk saling membantu satu sama lain.

Alhamdulillah.. IMAKES kembali hidup. banyak kegiatan yang kami lakukan untuk membantu satu sama lain. Kami melakukan kunjungan sosialisasi kampus ke SMA di Kebumen, dari yang berada di kota hingga pelosok. Kini banyak siswa-siswa SMA dari SMA pelosok Kebumen yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Mereka sadar betapa pentingnya pendidikan.
  • Ceritakan pengalaman anda dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan dengan tim yang sulit.
Pengalaman ini saya alami ketika saya di SMA. Saya mengikuti ekstrakurikuler Pramuka sejak SD, SMP, sampai SMA. Saya sering diberi amanah sebagai ketua regu. Hal ini menjadikan sikap kepemimpinan saya lebih kuat. Pada waktu itu sekolah saya mengadakan kegiatan pramuka wide game (jelajah medan). Saya sebagai ketua regu memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan anggota regu saya. Masing-masing ketua regu diberi kalung permen sejumlah anggotanya. Permen ini tidak boleh berkurang sebutirpun hingga wide game usai.

Ketika jelajah medan berlangsung, saya dan teman-teman saya telah melewati pos-pos dengan baik. Hingga sampai pada suatu pos yang cukup menegangkan yang terletak di lereng bukit arena wide game. Waktu itu kami tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan dari dewan ambalan sehingga kami mendapat hukuman. Dewan ambalan memberikan pilihan kepada kami untuk push up atau memberikan satu butir permen yang dikalungkan pada leher saya. Dalam keadaan sangat lelah, baju seragam pramuka yang basah dan kotor, dan medan (tanah) yang miring, beberapa anggota regu saya menyarankan untuk memberikan satu butir permen saja. Mereka sudah sangat lelah melewati pos-pos sebelumnya. Untuk beberapa saat kami melakukan diskusi tentang hukuman tersebut. Emosi yang tidak terbendung sempat meluap juga di antara kami. Sebagai ketua regu saya memilih untuk tidak memberikan permen kepada dewan ambalan karena kalung permen ini adalah amanah yang harus dipakai hingga wide game usai. Beberapa anggota regu saya sempat marah dan jengkel kepada saya, karena saya memutuskan untuk push up saja. Mereka kesal, apalagi push up yang seharusnya 25 kali bertambah menjadi 35 kali. Setelah selesai push up selesai, ternyata hukuman belum berakhir. Dewan ambalan meminta permen lagi atau push up akan ditambah. Saya masih kukuh dengan prinsip saya untuk mempertahankan kalung permen ini. Karena satu butir permen ini diibaratkan sebagai nyawa masing-masing anggota regu, dan saya harus menjaga serta membawanya hingga permainan usai. Lagi-lagi beberapa teman saya marah dan kami sempat adu pendapat. Mereka sudah tidak kuat lagi untuk push up. Satu sisi saya kasihan karena mereka sudah sangat lemas, namun sisi lain saya harus mempertahankan kalung permen ini. Alhasil kami push up hingga 60 kali lebih. Saya pun sangat lelah, namun ada kepuasan tersendiri karena saya dapat menjaga kalung permen ini. 

Wide game berlanjut sampai pos terakhir. Hingga pada sore hari waktu pengumuman tiba. Saya sangat kaget dan tidak menyangka bahwa ternyata yang menjadi pemenang wide game ini adalah regu saya. Alhamdulillah...perjuangan yang cukup sulit berbuah manis pada penghujung acara. Teman-teman saya yang marah dan sempat tidak mempedulikan saya merekahkan senyumnya. Bahagia sekali. Kemenangan ini menyatukan kami kembali. 
  • Ceritakan kekecewaan terbesar anda dan bagaimana anda mengelolanya.
Orang tua mana yang tidak senang ketika putra putrinya lulus SNMPTN? Orang tua mana yang tidak bangga dan bahagia ketika putra putrinya bisa masuk di salah satu perguruan tinggi negeri?
Tidak dengan orang tua saya. Mungkin iya, tapi saya tidak bisa melihat kebahagiaan itu. Ya, ketika saya mengabarkan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, bukan senyum terindah, bukan tawa bahagia yang saya terima. Tapi wajah masam dan tidak peduli dengan kabar itu. Entah apa yang orang tua saya rasakan. Kemudian pecahlah tangis saya. Sedih. Ketika teman-teman saya menginginkan posisi saya, ketika orang tua lain mengharapkan putra putrinya bisa diterima di perguruan tinggi negeri melalui tes SNMPTN.

Ketika itu ayah saya tidak setuju jika saya kuliah. Saya diminta untuk langsung bekerja saja, kemudian dua atau tiga tahun setelahnya baru boleh kuliah dengan biaya saya sendiri. Orang tua saya tidak diamanahi banyak uang dan harta untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Terlebih lagi ibu saya sedang mengalami sakit yang membutuhkan biaya cukup banyak saat itu. Kakak-kakak saya tidak dapat berbuat banyak karena mereka pun punya kebutuhan sendiri. Saya benar-benar kecewa saat itu. Namun saya tidak bisa menyerah sebelum saya berusaha hingga titik penghabisan.

Saya sudah berusaha keras membujuk ayah saya untuk memberikan izinnya agar saya dapat mengambil kesempatan kuliah itu. Saya berjanji akan mencari beasiswa dan bekerja paruh waktu untuk meringankan bebannya. Namun usaha saya tidaklah membuahkan hasil.

Saya hampir putus asa dan menyerah. Saya sudah mengatakan kepada kakak saya bahwa saya ikhlas tidak mengambil kuliah pada tahun itu dan akan mengikuti tes SNMPTN pada tahun berikutnya. Memang, tujuan saya mengikuti SNMPTN waktu itu sekadar ingin membuktikan bahwa saya bisa. Teman-teman saya yang tahu bahwa saya tidak mengambil kesempatan itu protes dan memberikan semangat untuk saya.

Semangat itu mengantarkan langkah saya menuju ke PT pertamina yang berjarak sekitar 1-2 km dari rumah saya. Dengan langkah penuh harap di ujung keputusasaan, saya benar-benar mengemis meminta bantuan beasiswa. Nampaknya saya sudah tidak punya rasa malu lagi saat itu. Berat rasanya membendung air mata ini. Usaha saya kali ini lagi-lagi gagal. Saya kembali membujuk orang tua saya di satu hari sebelum hari terakhir pembayaran seharusnya. Untuk ke sekian kalinya saya tidak mendapatkan hasil, Saya pasrah.

Rencana-Nya selalu indah pada waktu yang tepat. Pihak BEM FKIP UNS menghubungi saya, rupanya kakak teman saya yang tahu tentang kondisi saya memberitahunya. Pihak BEM FKIP UNS memberikan info bahwa ada beasiswa bidikmisi. Mereka meyakinkan saya di saat semangat saya medekati nol. Saya kembali membicarakannya kepada orang tua saya. 

Kemudian saya mengurus syarat-syarat beasiswa bidikmisi.
Hingga tiba di Surakarta, perjuangan belum berakhir. Dari pagi hingga sore hari, ditemani kakak mahasiswa BEM, saya mengurus surat-surat syarat mendapatkan beasiswa bidikmisi. Masa orientasi studi dan pengenalan kampus tiba. Penantian pengumuman penerima beasiswa bidikmisi membuat saya tidak bisa menikmati masa-masa orientasi. Apalagi ibu saya dalam keadaan sakit. Saya menyerahkan seutuhnya pada yang Kuasa.

Alhamdulillah, di hari terakhir ospek, saya baru bisa tersenyum karena nama saya tercantum sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Saya sangat bersyukur. Di saat inilah orang tua saya bahagia. 
  • Ceritakan pengalaman anda ketika berada dalam situasi yang bertentangan dengan nilai/prinsip yang anda yakini
Terkait pengalaman saya dalam situasi yang bertentangan dengan nilai/prinsip yang saya yakini terjadi dengan orang tua saya sendiri. Mereka menganggap bahwa sekolah tidaklah penting. Bagi mereka sekolah hingga SMA saja sudah cukup, apalagi bagi seorang perempuan yang nantinya di dapur menjadi ibu rumah tangga. Sekolah mahal.

Hal ini menghambat langkah saya untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Bukan hal yang mudah meyakinkan orang tua saya tentang pentingnya belajar. Saya melakukannya berkali-kali, menunjukkan kepada orang tua saya bahwa belajar sangatlah penting dan banyak manfaatnya. Tidak sekadar materi belaka. Kuliah tidaklah mahal, banyak beasiswa yang diberikan kepada orang-orang yang kurang mampu.

Namun, usaha saya tidak cukup meyakinkan mereka hingga saya memutuskan tekad saya untuk melanjutkan kuliah dengan/tanpa izin dan restu orang tua. Saya berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa agar saya bisa kuliah tanpa harus membebani orang tua saya. dan saya mendapatkannya.
Alhasil, setelah empat tahun tiga bulan kuliah dan saya lulus menjadi sarjana pendidikan, barulah kedua orang tua saya percaya betapa berharganya ilmu untuk dipelajari dan diamalkan. 

Kemudian, orang tua saya kini justru menganjurkan saya untuk melanjutkan kuliah S2 dengan mencari beasiswa tentunya dan tidak lagi melarang adik saya untuk kuliah. Bahkan mereka berusaha keras untuk membiayai perkuliahan adik saya. Mereka sadar bahwasanya memiliki ilmu jauh lebih berharga daripada materi.
  • Ceritakan pengalaman anda dalam meyakinkan orang yang kedudukannya lebih tinggi dari Anda untuk mendapatkan dukungan atas sebuah ide atau inisiatif.
Pada program studi Fisika UNS, terdapat tiga tugas akhir, yaitu skripsi, eksperimen Fisika, dan seminar Fisika. Saya akan menceritakan tentang salah satu tugas akhir saya yaitu seminar Fisika. Untuk menyelesaikan seminar Fisika, mahasiswa harus membuat makalah Seminar. Makalah tersebut harus berkaitan dengan Fisika. Mahasiswa membuat makalah Seminar Fisika dari hasil penelitian orang lain, menyusun makalah, kemudian melakukan seminar.

Seminar saya berjudul Pengaruh Variasi Tegangan pada Teknologi Pengolahan Limbah Cair Laundry. Sebelum saya melakukan penelitian, saya harus mendapat perijinan dan persetujuan dari dosen koordinator Seminar Fisika. Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa seminar saya lebih condong ke kimia. Hal ini yang menjadikan sedikit masalah. Dosen koordinator Seminar Fisika enggan menyetujuinya. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya akan melakukan penelitian sendiri, mengambil data, dan menyeminarkan. Butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan persetujuan. Berkali-kali saya minta persetujuan. Saya meyakinkan dosen koordinator Fisika bahwa penelitian saya masih berkaitan dengan Fisika dalam penggunaan variasi tegangannya. Selain itu penelitian saya juga banyak manfaatnya bagi lingkungan. Penelitian saya bertujuan mengurangi pencemaran badan air dari air limbah laudry yang dibuang secara langsung ke lingkungan. 

Dosen koordinator Fisika tidak kunjung menyetujui, beliau menganggap seminar saya terlalu rumit karena melakukan penelitian sendiri. Tidak seperti mahasiswa lain yang menggunakan hasil peneltian orang lain. Setelah berkali-kali saya meyakinkan dosen koordinator bahwa saya mampu melakukan penelitian itu, akhirnya judul saya disetujui. 

Saya bersyukur karena beberapa dosen lain tertarik dengan penelitian saya. Selain itu beberapa adik tingkat melakukan penelitian seperti saya untuk tugas akhir seminar Fisikanya dengan mengganti jenis limbah dan variasi tegangan serta arus.
  • Dukungan apa yang Anda harapkan dari IM selama masa penugasan menjadi pengajar muda?
- tempat tinggal
- biaya hidup
- akses komunikasi
  • Jelaskan 3 hal yang menjadi kekuatan karakter diri Anda.
- Percaya diri
- Optimis
- Mudah bergaul
  • Sebutkan hal-hal yang mungkin menghalangi anda untuk menjadi pengajar muda, jika anda diterima dan bagaimana mengatasinya? 
  •  Ceritakan kepada kami hal lain yang Anda ingin sampaikan tentang diri Anda.
Saya memang bukan peraih medali emas, pemenang olimpiade, atau pun peserta debat internasional. Saya bukan orang hebat, saya hanya ingin berbagi dan belajar dengan mereka, anak-anak Indonesia harapan bangsa. Saya ingin berbagi ilmu yang saya miliki agar bermanfaat dan berkah.

  • Jika ada, Anda dipersilahkan untuk meng-upload video diri Anda di youtube dan mohon cantumkan link. 
Lumayan cukup banyak ya esainya... ada beberapa pertanyaan yang diubah, mungkin karena saya sebagai PM terakhir di suatu penempatan, sementara untuk kali ini PM baru di penempatan baru pula. Semoga bisa jadi pertimbangan buat teman-teman yang mau mendaftar menjadi PM IM. Semoga bermanfaat.

Semangat!! :)