...Setelah kurang lebih satu bulan tidak mengkonsumsi Lutenyl, akhirnya pada minggu ke dua bulan Januari, saya mengalami menstruasi (8 - 12 Januari 2019) selama lima hari. Biasanya sih tujuh hari. Berhubung Lutenyl ini ternyata tidak dijual bebas di apotik, saya pikir saya harus mengunjungi dokter lagi untuk mengecek keadaan si kista manisku dan agar tahu langkah apa lagi yang harus saya jalani untuk setidaknya mencegah kista tidak semakin membesar.
17 Januari 2019
Saya mengunjungi RSUD Prembun (setelah minta rujukan dari faskes I) dan bertemu dengan dr. Farah sebagai pengganti dr. Tika. Pada awal pertemuan ini, saya ceritakan dulu perihal kista yang saya miliki dan segala macamnya.
Lantas... USG transrektal lagi. Yeaaayyyy!!!
Mulanya saya kira di USG transrektal yang kedua ini akan berjalan lebih baik, namun karena saya tegang, agak takut, dan mungkin belum senyaman dengan dokter sebelumnya, maka rasanya jadi cukup ngilu. Bayangkan saja, transduser sebesar jempol tangan masuk ke dalam rektum. Hmmm... selama alat itu bekerja, saya hanya berdoa agar kistanya mengecil dong pleaseeee... dan segeralah alat itu menjauh darikuuu haha
Dan benar saja, Alhamdulillah... kista di sebelah kanan kini mengecil menjadi 3,02 cm. Meskipun berkurangnya hanya 0, sekian cm tapi rasanya senang sekali. Jadi ingat pertama USG, ukuran kista ini hampir 5 cm.
Tapi, tapi... ada apa di bagian perut sebelah kiri?
Selama ini, setiap menstruasi yang sakit di bagian perut sebelah kiri, tapi kistanya di sebelah kanan. Dan... ternyata, ada pula sebuah kista di sebelah kiri. Apaaa?? yang benar saja? Rupanya benjolan yang terlihat kabur pada USG pertama ini adalah kista juga. Melihat ekspresi saya yang kaget, dr. Farah menenangkan, bahwa kista tersebut tidak berbahaya karena ini merupakan kista fungsional, mungkin isinya juga darah. Fyuuuuhhhh... sedikit lega.
Akhirnya proses USG pun selesai. Saya melihat sedikit bercak darah di kondom transduser. Ngeri.
Kemudian, saatnya dokter menjelaskan. Saya paling suka momen ini, karena bisa menyampaikan segala keluhan secara gamblang dan meminta dokter untuk menjelaskan keadaan saya secara terbuka sampai benar-benar saya pahami. Penting nih ya! Bahwa setiap pasien berhak tahu keadaan dirinya sedetail mungkin.
Mengenai obat yang saya konsumsi sebelumnya, Lutenyl, dr. Farah menyayangkan karena obat tersebut menghentikan siklus menstruasi. Sebaiknya, menstruasi tetap terjadi setiap bulan. Selain itu, efek samping dari Lutenyl yang saya rasakan adalah berat badan meningkat dan perut menjadi besar (membengkak) Oleh karena itu, dr. Farah menyarankan untuk beralih ke Yasmin. Yasmin ini semacam pil KB yang isinya 21 tablet berbahan aktif yang mengandung preparat hormon (drospironone dan ethynilestradio) dan 7 tablet berbahan nonaktif yang tidak mengandung bahan preparat hormon (plasebo atau pil kosong). Yasmin ini kalau diibaratkan seperti deterjen Attact, yang terbaru dan terampuh membasmi kotoran. Haha. Balik ke Yasmin, pil ini tidak berdampak pada naiknya berat badan, justru mengurangi jerawat, menstruasi tetap berjalan, dan mengurangi anemia. Tetapi, harganya jauh lebih mahal yaitu sekitar Rp 220.000,00 (kalau Lutenyl sih gratis dari rumah sakit) hehe.
Mendengar sekilas keterangan dr. Farah tentang Yasmin, saya iya-iya saja. Padahal yang dipahami hanya minum setiap hari, sebaiknya diminum saat malam sebelum tidur pada jam yang sama, dan saat menstruasi pun tetap diminum. Lalu meluncurlah ke apotik untuk membelinya dan tidak lupa meminta keterangan dari apoteker. Berharap mendapat pencerahan, eh tapi kok saya malah bingung dengan cara penggunaannya. Apalagi setelah membaca peringatan penggunaan untuk penderita maag dan migrain. Wah! tambah galau nih, mau diminum atau nggak. Sayang cuy, mahal. Haha.
...Hingga beberapa hari kemudian saya tidak berani untuk meminumnya. Lalu saya mencoba untuk menghubungi dr. Tika dan meminta sarannya atas kondisi tersebut. Dan, barulah pada 30 Januari 2019, saya berani menjalin kasih dengan Yasmin dengan catatan, jika migrain, berhenti mengkonsumsinya.
Gitu... guys...
Sekian dulu cerita hari ini... semoga bermanfaat, terima kasih.


No comments:
Post a Comment