Apa kabar kista cokelat?
Sudah mengecilkah dirimu?
Masih betahkah tinggal di dalam perutku?
15 November 2018
15 November lalu, saya menemui dr. Tika untuk mengecek perkembangan kista cokelat yang ada di dalam perut saya. Saya agak takut, sebab beberapa hari sebelumnya saya mengalami menstruasi. Saya pikir, hal ini disebabkan oleh berhentinya saya mengonsumsi lutenyl (karen habis). Sengaja nggak beli, karena penasaran juga kalau nggak minum obat jadinya gimana. Hihi. Tapi mens-nya nggak seperti biasa, hanya keluar sedikit darah (di pagi hari) berwarna merah tua sekali hampir hitam dan pekat.
Seperti yang sudah-sudah, untuk ke sekian kalinya saya di USG melalui perut (USG abdominal). Hasilnya sama. Lalu dr. Tika menyarankan untuk USG melalui anus (USG Transrektal) agar hasilnya lebih jelas. Beliau tidak menyarankan USG melalui vagina (USG transvaginal) karena saya masih virgin :)
Mulanya saya menolak saran dokter. Selain malu, saya juga takut sakit dan berdampak nantinya. Namun setelah dr. Tika meyakinkan, dan saya juga sangat penasaran dengan perkembangan kista ini, maka saya setuju dengan catatan tidak ada laki-laki di dalam ruangan itu. USG pun dimulai. dr. Tika memberikan gel pada transduser yang telah dibungkus kondom. Gel ini mampu mengurangi rasa sakit ketika transduser dimasukan ke dalam anus. Selama proses berlangsung, rasanya aneh seperti ada yang mengganjal, apalagi karena baru pertama kali, saya cukup tegang. Memang perlu persiapan mental yang matang dan mengatur nafas serileks mungkin agar USG ini berlangsung dengan lancar.
Beginilah hasilnya,
Alhamdulillah, ukuran kista semakin mengecil yakni 3,75 cm (mulanya 4,9 cm). Betapa senangnya hatiku mengetahui kabar baik ini. Nggak nyesel deh, USG melalui anus. Hihi. Tapi... tapi... seperti yang saya bilang di awal tadi, dengan USG transrekal ini, hasilnya lebih jelas. Lebih jelas terlihat adanya benjolan juga di sebelah kiri. huhu. Tapi dokter belum bisa memastikan apakah itu kista juga atau bukan, karena gambarnya kabur. Semoga ya, ini bukan kista. Amin.
Setelah USG, dokter menjelaskan agar saya tidak melakukan operasi. Mengapa? dikhawatirkan ketika operasi, kista ini akan pecah dan cairan cokelat yang ada di dalamnya akan lengket dan menempel di mana-mana. Lebih baik, konsumsi obat dulu hingga menikah nanti. Dokter masih memberikan lutenyl seperti sebelumnya.
*Fyi, selain lutenyl saya juga mengonsumsi bless tea, salah satu jenis teh yang dibuat dari pucuk daun teh termuda. Katanya teh ini punya manfaat baik untuk penyakit-penyakit dalam (Ini saran mamake, jadi ya ikuti saja. Namanya juga ikhtiar ya kan...)
Ngomong-ngomong, pertemuan dengan dr. Tika kali ini merupakan pertemuan terakhir, karena dr. Tika akan dipindahtugaskan di RSCM. Sedih sih, karena sudah nyaman sekali dengan dr. Tika. Saking baiknya, beliau pun memberikan no.tlp pribadinya agar sewaktu-waktu saya bisa konsultasi dengannya :)
Mulanya saya menolak saran dokter. Selain malu, saya juga takut sakit dan berdampak nantinya. Namun setelah dr. Tika meyakinkan, dan saya juga sangat penasaran dengan perkembangan kista ini, maka saya setuju dengan catatan tidak ada laki-laki di dalam ruangan itu. USG pun dimulai. dr. Tika memberikan gel pada transduser yang telah dibungkus kondom. Gel ini mampu mengurangi rasa sakit ketika transduser dimasukan ke dalam anus. Selama proses berlangsung, rasanya aneh seperti ada yang mengganjal, apalagi karena baru pertama kali, saya cukup tegang. Memang perlu persiapan mental yang matang dan mengatur nafas serileks mungkin agar USG ini berlangsung dengan lancar.
Beginilah hasilnya,
Alhamdulillah, ukuran kista semakin mengecil yakni 3,75 cm (mulanya 4,9 cm). Betapa senangnya hatiku mengetahui kabar baik ini. Nggak nyesel deh, USG melalui anus. Hihi. Tapi... tapi... seperti yang saya bilang di awal tadi, dengan USG transrekal ini, hasilnya lebih jelas. Lebih jelas terlihat adanya benjolan juga di sebelah kiri. huhu. Tapi dokter belum bisa memastikan apakah itu kista juga atau bukan, karena gambarnya kabur. Semoga ya, ini bukan kista. Amin.
Setelah USG, dokter menjelaskan agar saya tidak melakukan operasi. Mengapa? dikhawatirkan ketika operasi, kista ini akan pecah dan cairan cokelat yang ada di dalamnya akan lengket dan menempel di mana-mana. Lebih baik, konsumsi obat dulu hingga menikah nanti. Dokter masih memberikan lutenyl seperti sebelumnya.
*Fyi, selain lutenyl saya juga mengonsumsi bless tea, salah satu jenis teh yang dibuat dari pucuk daun teh termuda. Katanya teh ini punya manfaat baik untuk penyakit-penyakit dalam (Ini saran mamake, jadi ya ikuti saja. Namanya juga ikhtiar ya kan...)
Ngomong-ngomong, pertemuan dengan dr. Tika kali ini merupakan pertemuan terakhir, karena dr. Tika akan dipindahtugaskan di RSCM. Sedih sih, karena sudah nyaman sekali dengan dr. Tika. Saking baiknya, beliau pun memberikan no.tlp pribadinya agar sewaktu-waktu saya bisa konsultasi dengannya :)

No comments:
Post a Comment