November 12, 2023

Merayakan Hari Ayah Tanpa Bapak

 


Baru saja nonton YouTube Makna Talks https://youtu.be/ZAsmI2Hftn4?si=h6dFUioWTBlrcZOI dan rasanya ingin menuangkan rindu dan rasa lain-lain untuk Bapak.

Bapak seorang yang keras dan sangat memegang kuat prinsipnya. Hubunganku dengan bapak tidak sehangat ayah dan anak perempuan pada umumnya. Bapak bukan tipikal yang menunjukkan kasih sayangnya dengan kata apalagi pelukan. Hubunganku dengannya seperti love-hate relationship. Mungkin malah lebih banyak saling bencinya, bapak benci dengan keras kepalaku, ngeyelku, yang padahal itu warisan darinya. Haha.

Beberapa momen yang masih kuingat tentangnya dan yang bisa kubagikan:

Saat kecil dulu, sepupuku meminjam sepeda miniku tapi aku enggan memberikannya, bapak membujuk agar aku mau berbagi dan menjanjikannya membelikan sepeda yang baru (sambil memelukku, satu-satunya pelukan yang kuingat).

Saat kecil dulu, aku merasakan sayangnya bapak. Tapi tidak lagi setelah ada adikku. Semua-semua untuk adikku. Pernah aku dan adikku berebut sepeda, dengan terang-terangan bapak memarahiku dan menyatakan bahwa sepeda baru itu dibeli memang untuk adikku. Sedih kali…

Saat kecil dulu, aku tergolong anak yang bandel, susah dikasih tau, menjengkelkan. Sering bapak memarahiku, bahkan pernah memukul juga. Dan parahnya, aku pernah dikurung di gudang karena tidak berhenti menangis. Menangisku pun itu karena ulahku sendiri juga. Wkwk. Aku benci bapak, galak dan jahat.

Bapak selalu subuh di mushola. Sepulang dari mushola, bapak masuk kamar, membangunkan dengan lembut dan mengusap-usapku (yang dikira adikku). Aku pura-pura masih tertidur, hampir aku bahagia kok tumben bapak melakukan itu, rupanya salah kira. Aku yang sedih tapi juga tidak ingin membuatnya malu, membiarkan diri diam.

Waktu aku kelas enam SD, bapak mengajakku mencuci motor di SD-ku yang sumurnya terbuka untuk siapapun. Dan setelah itu bapak mengajariku naik sepeda motor. Ngeeengg ~

Masuk SMP, bapak tidak menemaniku mendaftar dan justru meminta kakakku untuk mengantarkanku. Sedihnya, saat teman-teman yang lain diantar bapak ibunya. Lebih menyedihkan, dari SMP-SMA, bapak tidak pernah mengambilkan raporku (ku ingat ayah Ikal dan Lintang dalam novel Laskar Pelangi yang rela jauh-jauh mengayuh sepada ontelnya mengambil rapor dengan bangga, aku iri). Bapak ada marah, ketika aku tidak mau menuruti ingginnya untuk melanjutkan di SMA yang dekat rumah saja.

Saat orang tua teman-temanku bangga karena anak-anaknya lulus masuk perguruan tinggi, bapakku justru marah karena aku bersikeras melanjutkan kuliah (waktu itu aku lolos SNMPTN). Aku ingat bagaimana aku memaksa, meyakinkan, negosiasi, agar diizinkan lanjut sekolah. Buat bapak, setelah SMA ya kerja. Buat apa kuliah. Ya… saat itu ekonomi bapak sedang tidak baik (memang seperti itu selalu sepertinya wkwk). Atau mungkin bapak melarangku kuliah karena dulu impiannya menjadi tentara tidak diizinkan orang tuanya. Aku ingat jelas bagaimana bapak melemparkan setumpuk uang ratusan ribu karena jengkel aku tetap mau kuliah (waktu itu aku bilang pinjam uangnya dulu, Pak. Kalau aku lulus beasiswa, aku ganti uangnya).

Marah bapak agak berkurang ketika aku kuliah (tentunya dengan beasiswa). Bapak rutin menelepon setelah subuh untuk membangunkan dan memastikan anak perempuannya bangun pagi.

Meski marahnya berkurang, bukan berarti kami tak lagi kelahi. Sering aku pulang saat weekend (aku kuliah di luar kota), tapi sampai rumah malah ribut. Ada aja problemnya. Sampai-sampai keluar dari mulut bapak “ngapain pulang, kalau di rumah bikin ribut terus, pergi saja”. Sakitnya ya Tuhan… diusir nih? Giliran nggak pulang beberapa minggu, bapak sedikit tidak enak badan dan minta aku pulang. Kangen, Pak? wkwk.

Bagaimanapun, bapak baik juga kok. Bapak selalu mengantar ke depan ketika aku akan balik ke Solo dan menemaniku menunggu bis. Bapak juga lah yang akan menjemputku saat aku pulang untuk liburan weekend.

Akhirnya aku lulus, kelulusanku sepertinya membuatnya sedikit bangga. Alhamdulillah, setidaknya aku tidak membuatnya marah melulu.

Aku memutuskan untuk ikut kegiatan volunteering yang cukup makan waktu lama, setahun. Aku agak takut kalau-kalau ditempatkan di Kalimantan atau Papua. Tapi bapak meyakinkan, “kalau kamu baik, pasti dipertemukan dengan orang-orang baik pula”. Wow bijak kali bapakku. Karena wejangannya itu, aku jadi berani, pergi jauh untuk pertama kalinya dalam rentan waktu yang lama.

Sepulang dari Papua, aku mendapatkan pekerjaan di Halmahera Timur. Ketika aku minta izin dan pamit ke bapak, dengan entengnya beliau bilang “ya, hati-hati”. Astaga, antara bahagia karena diberi kepercaan bahwa aku bisa dan berani, tapi sedia juga, kaya nggak ada khawatirnya bapak tuh sama anak perempuannya ini. Wkwk.

Cukup lama bekerja di Indonesia timur yang cukup jauh, akhirnya pada tahun 2017 untuk pertama kalinya bapak minta aku pulang. Ada sedih di ujung telepon ketika aku sampaikan, “dua bulan lagi ya Pak, biar genap setahun di sini, nanti Februari 2018 aku pulang”.

Aku tepati janjiku. Aku resign untuk menamani bapak di hari tuanya yang sudah sakit-sakitan. Bapak diabetes.

Hubunganku dengan bapak kini membaik. Aku paling senang ketika hari Jumat tiba, bapak selalu minta tolong dipotongi kukunya. Sweet kali moment itu. Terkadang, aku juga mewarnai rambutnya yang sudah beruban memutih semua. Bapak terlihat lebih muda dan segar ketika rambutnya kembali hitam.

Sore-sore kami sering duduk-duduk di teras, bercerita sembari menanti ketoprak keliling. Karena aku dan bapak makannya sedikit, jadi kami berbagi satu bungkus untuk berdua. Sweet moment lagi nih. Begitu juga setiap Sabtu, aku ke pasar tradisional dan membeli lotek legendaris. Dan kami pasti berbagi satu bungkus untuk berdua.

Bapak rela berbagi makanan-makanan itu, tapi tidak dengan mie gelas. Begitu cintanya dengan mie gelas, kalau bapak beli serenteng itu akan disimpan baik-baik dan dimakan sendiri. Wkwk. Lucu, tapi ngeselin. Sudah diberitahu harus mengurangi makan mie gelas demi kesehatannya, tapi tetap saja ngeyel. Hmmm…

Bapak semakin renta, pernah kami pergi untuk membeli jamu, kini aku yang membawa motor dan bapak duduk di belakang. Kini aku yang menggandeng bapak menyeberang jalan. Sedih kalau ingat itu. Pernah juga kami pergi ke sawah, bapak kangen lihat ijo-ijo, lagi-lagi aku yang membawa motoryna, penglihatan bapak sudah berkurang. Tak lagi kuat seperti dulu. Huhu.

Beberapa hari di rumah setelah resign, aku ditawari project di Bintuni. Bapak mwngizinkan, karena hanya dua minggu saja. Sepulang dari Bintuni, aku mengabari Bapak ketika sampai di Bandara Sultan Hasanudin. Ada khawatir di ujung telepon ketika bapak tau aku sendirian.

Lanjut lagi, ada project ke Kalimantan (Palangkaraya) untuk beberapa hari saja. Perjalanannya cukup panjang, dari Banjarmasin, kurang lebih 10 jam via darat, 2,5 jam menyusuri sungai Barito. Sinyal tidak stabil, bapak tidak bisa menghubungiku dan aku lupa tidak mengabari bapak. Sepulang dari sana, ketika taksi yang mengntarkanku belum juga keluar dari halaman rumah, dan koperku juga masih kujinjing, bapak keluar dengan tergopoh dan menangis. Benar-benar menangis mengkhawatirkanku. Katanya, “buat apa bekerja sekeras ini, kamu tidak ada tanggungan apapun”. Astaghfirullah, kukira selama ini bapak baik-baik saja dengan kepergianku ke sana kemari. Mungkin ini kumpulan kekhawatiran dan kesedihan yang sudah menumpuk bertahun-tahun.

Sejak itu, aku putuskan untuk bekerja di Jawa saja, agar lebih dekat dan bisa menemani bapak.

Tak lama, Juni 2018 bapak berpulang. Aku belum bisa ceritakan. Rasanya sebentar sekali waktu manis kami bersama.

Al-fatihah untuk bapak. Selamat hari Ayah.

12 November 2023

No comments: