Halo gaess... H-1 menuju pendaftaran Pengajar Muda (PM) angkatan XIII Indonesia Mengajar nih. Sudah siapkah kamu untuk menjadi the next PM ?? Hehe
Pada postingan sebelumnya, MAU JADI PENGAJAR MUDA? saya menuliskan tahapan-tahapan seleksi menjadi PM. Nah untuk kali ini, saya mau berbagi tentang esai saya ketika mendaftar PM. Esainya saya persingkat ya, ada beberapa hal yang sebaiknya disensor. Hihi
|
- Apa motivasi Anda bergabung menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar?
Motivasi
saya bergabung menjadi PM IM, saya ingin belajar dan berbagi. Dari kecil
saya bercita-cita untuk menjadi guru. Semakin besar cita-cita saya semakin
bertambah, mulai dari pembaca berita, wartawan, dokter, bidan, ahli gizi, dan
semakin lama mengerucut lagi. Saya memang ingin menjadi guru. Saya mendapatkan kesenangan ketika dan setelah saya mengajar.
Kesulitan saya dalam mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi, memotivasi saya menjadi pengajar muda. Saya ingin berbagi dengan mereka
yang mungkin tidak berkesempatan untuk mengenyang pendidikan di bangku sekolah
karena hambatan keuangan atau bahkan ijin dari orang tua seperti saya.
Sebagai
pengajar, saya ingin mengamalkan ilmu saya kepada mereka, anak-anak harapan
bangsa. Tidak hanya mengajar, saya pun ingin belajar dari mereka.
Selain hal
itu, motivasi saya berasal dari mengikuti Solo Mengajar. Meskipun saya menjadi
volunteer Solo Mengajar belum lama, tapi saya mendapat pelajaran yang begitu
banyak dan berharga. Saya senang bermain dan belajar dengan anak-anak kecil.
Kebahagian, kepuasan, dan pelajaran yang saya dapatkan dari Solo Mengajar
semakin membuat saya penasaran dengan pelajaran yang akan saya dapatkan jika
saya mengikuti Indonesia Mengajar. Saya ingin berbagi hingga ke pelosok
nusantara.
Saya suka
tantangan. Daerah penempatan PM IM yang terpencil, pelosok, tidak ada listrik,
air susah, jalan bebatuan, tidak ada signal, bukan tidak menghalangi tekad saya.
- Ceritakan pengalaman anda ketika berusaha mencapai kesepakatan dalam situasi yang sulit di organisasi/pekerjaan.
Saya
mengalami kesulitan untuk mencapai kesepakatan baru-baru ini. Saya sebagai kepala sekolah Taman Cerdas Sumber Solo Mengajar dan teman-teman
volunteer mengadakan outing class untuk penutupan kelas pada semester ini. Kami
mengajak adik-adik Solo Mengajar berkunjung ke Monumen Pers Nasional Surakarta
menggunakan kereta kelinci.
Saya berbagi tugas dengan volunteer lainnya, ada yang sebagai koordinator penanggung jawab acara, transportasi, perijinan, konsumsi, dan lain sebagainya. Seminggu pasca pembagian tugas ini, saya belum mendapat laporan hasil dari mereka para koordinator. Saya sudah mengingatkan berkali-kali, namun hasilnya masih sama.
Akhirnya saya dan salah satu teman volunteer memutuskan untuk bergerak. Saya mengajak teman saya untuk mencari kereta kelinci sebagai alat transportasi menuju Monumen Pers Nasional. Kemudian kami mengunjungi Monumen Pers untuk survei tempat. Ternyata rencana kunjungan yang akan diadakan pada hari Minggu mungkin akan ditunda, karena Monumen Pers hanya buka pada hari kerja saja. Selain itu, pada kunjungan hari kerja mendapatkan fasilitas lebih dan mendapat snack. Ini akan meminimalisir pengeluaran.
Kemudian saya melaporkan hasil survei kepada volunteer lainnya. Tujuannya, selain memberitahukan, saya juga menginginkan sebuah solusi untuk keberlangsungan acara ini. Namun apa yang saya harapkan tidak terwujud. Rapat online yang kami lakukan menggunakan sebuah akun sosial media tidak berjalan lancar. Hanya beberapa volunteer saja yang aktif merespons. Padahal untuk rapat secara langsung tidak memungkinkan karena waktu yang sudah mendekati hari H, serta kesibukan masing-masing volunteer yang berbeda-beda. Hal ini menimbulkan banyak saran dan pendapat dari teman-teman volunteer.
Saya sempat merasa kesal, karena tiba-tiba ada volunteer yang mengusulkan untuk mengubah agenda, di tempat yang berbeda, yang belum tahu pastinya. Saya merasa usaha saya tidak dihargai. Sebenarnya tidak ada masalah, kalau usulnya tidak asal, mau menangani bersama. Tidak hanya usul kemudian memasrahkan kepada yang lainnya.
Saya sudah mengingatkan untuk fokus pada rencana awal terlebih dahulu. Kalau kunjungan ke Monumen Pers berjalan dengan lancar, baru kemudian mengadakan kegiatan outbond. Saya bersyukur setelah agak lama berdepat kemudian beberapa volunteer menyetujui untuk fokus pada rencana awal.
Lalu, saya putuskan untuk menunda rapat dan mencari solusi dengan konsultasi dengan direktur Solo Mengajar terkait kunjungan ke Monumen Pers Nasional, keamanan transportasi menggunakan kereta kelinci di jalan raya, dan lain sebagainya.
- Jika ada, ceritakan pengalaman Anda dalam merintis suatu kegiatan/membuat perubahan. Apa dampak dari tindakan tersebut?
Awal tahun
masuk perkuliahan di Universitas Sebelas Maret Surakarta, mahasiswa yang
berasal dari daerah saya (Kebumen) berkumpul. Perkumpulan itu hanya pertemuan
biasa untuk saling mengenal.
Kemudian saya dan teman-teman angkatan saya memiliki ide untuk mendirikan sebuah ikatan mahasiswa yang berasal dari Kebumen yang kuliah di Surakarta.
Kemudian saya dan teman-teman angkatan saya memiliki ide untuk mendirikan sebuah ikatan mahasiswa yang berasal dari Kebumen yang kuliah di Surakarta.
Sebenarnya ikatan mahasiswa Kebumen di Solo (IMAKES) sudah didirikan, hanya saja tidak berjalan dan saya serta teman-teman ingin menghidupkan kembali IMAKES tersebut. Dalam pembentukan organisasi tersebut, saya dan teman-teman saya mengalami banyak kendala. Salah satunya adalah pesimisnya kakak-kakak tingkat tentang komitmen kita. Mereka tidak yakin bahwa kita akan bisa meneruskan organisasi tersebut.
Kemudian saya dan teman-teman saya meyakinkan mereka bahwa kami siap melanjutkan dan menghidupkan kembali organisasi tersebut. Kami siap menciptakan tali persaudaraan agar mahasiswa Kebumen yang berada di Solo bersatu dan melakukan kegiatan untuk saling membantu satu sama lain.
Alhamdulillah.. IMAKES kembali hidup. banyak kegiatan yang kami lakukan untuk membantu satu sama lain. Kami melakukan kunjungan sosialisasi kampus ke SMA di Kebumen, dari yang berada di kota hingga pelosok. Kini banyak siswa-siswa SMA dari SMA pelosok Kebumen yang melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Mereka sadar betapa pentingnya pendidikan.
- Ceritakan pengalaman anda dalam menyelesaikan tugas/pekerjaan dengan tim yang sulit.
Pengalaman
ini saya alami ketika saya di SMA. Saya mengikuti ekstrakurikuler Pramuka sejak
SD, SMP, sampai SMA. Saya sering diberi amanah sebagai ketua regu. Hal ini
menjadikan sikap kepemimpinan saya lebih kuat. Pada waktu itu sekolah saya mengadakan kegiatan pramuka wide game (jelajah
medan). Saya sebagai ketua regu memiliki tanggung jawab penuh atas keselamatan
anggota regu saya. Masing-masing ketua regu diberi kalung permen sejumlah anggotanya.
Permen ini tidak boleh berkurang sebutirpun hingga wide game usai.
Ketika jelajah medan berlangsung, saya dan teman-teman saya telah melewati pos-pos dengan baik. Hingga sampai pada suatu pos yang cukup menegangkan yang terletak di lereng bukit arena wide game. Waktu itu kami tidak bisa menjawab beberapa pertanyaan dari dewan ambalan sehingga kami mendapat hukuman. Dewan ambalan memberikan pilihan kepada kami untuk push up atau memberikan satu butir permen yang dikalungkan pada leher saya. Dalam keadaan sangat lelah, baju seragam pramuka yang basah dan kotor, dan medan (tanah) yang miring, beberapa anggota regu saya menyarankan untuk memberikan satu butir permen saja. Mereka sudah sangat lelah melewati pos-pos sebelumnya. Untuk beberapa saat kami melakukan diskusi tentang hukuman tersebut. Emosi yang tidak terbendung sempat meluap juga di antara kami. Sebagai ketua regu saya memilih untuk tidak memberikan permen kepada dewan ambalan karena kalung permen ini adalah amanah yang harus dipakai hingga wide game usai. Beberapa anggota regu saya sempat marah dan jengkel kepada saya, karena saya memutuskan untuk push up saja. Mereka kesal, apalagi push up yang seharusnya 25 kali bertambah menjadi 35 kali. Setelah selesai push up selesai, ternyata hukuman belum berakhir. Dewan ambalan meminta permen lagi atau push up akan ditambah. Saya masih kukuh dengan prinsip saya untuk mempertahankan kalung permen ini. Karena satu butir permen ini diibaratkan sebagai nyawa masing-masing anggota regu, dan saya harus menjaga serta membawanya hingga permainan usai. Lagi-lagi beberapa teman saya marah dan kami sempat adu pendapat. Mereka sudah tidak kuat lagi untuk push up. Satu sisi saya kasihan karena mereka sudah sangat lemas, namun sisi lain saya harus mempertahankan kalung permen ini. Alhasil kami push up hingga 60 kali lebih. Saya pun sangat lelah, namun ada kepuasan tersendiri karena saya dapat menjaga kalung permen ini.
Wide game berlanjut sampai pos terakhir. Hingga pada sore hari waktu pengumuman tiba. Saya sangat kaget dan tidak menyangka bahwa ternyata yang menjadi pemenang wide game ini adalah regu saya. Alhamdulillah...perjuangan yang cukup sulit berbuah manis pada penghujung acara. Teman-teman saya yang marah dan sempat tidak mempedulikan saya merekahkan senyumnya. Bahagia sekali. Kemenangan ini menyatukan kami kembali.
- Ceritakan kekecewaan terbesar anda dan bagaimana anda mengelolanya.
Orang tua
mana yang tidak senang ketika putra putrinya lulus SNMPTN? Orang tua mana yang
tidak bangga dan bahagia ketika putra putrinya bisa masuk di salah satu
perguruan tinggi negeri?
Tidak dengan orang tua saya. Mungkin iya, tapi saya tidak bisa melihat kebahagiaan itu. Ya, ketika saya mengabarkan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, bukan senyum terindah, bukan tawa bahagia yang saya terima. Tapi wajah masam dan tidak peduli dengan kabar itu. Entah apa yang orang tua saya rasakan. Kemudian pecahlah tangis saya. Sedih. Ketika teman-teman saya menginginkan posisi saya, ketika orang tua lain mengharapkan putra putrinya bisa diterima di perguruan tinggi negeri melalui tes SNMPTN.
Tidak dengan orang tua saya. Mungkin iya, tapi saya tidak bisa melihat kebahagiaan itu. Ya, ketika saya mengabarkan bahwa saya diterima sebagai mahasiswa Pendidikan Fisika FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta, bukan senyum terindah, bukan tawa bahagia yang saya terima. Tapi wajah masam dan tidak peduli dengan kabar itu. Entah apa yang orang tua saya rasakan. Kemudian pecahlah tangis saya. Sedih. Ketika teman-teman saya menginginkan posisi saya, ketika orang tua lain mengharapkan putra putrinya bisa diterima di perguruan tinggi negeri melalui tes SNMPTN.
Ketika itu
ayah saya tidak setuju jika saya kuliah. Saya diminta untuk langsung bekerja
saja, kemudian dua atau tiga tahun setelahnya baru boleh kuliah dengan biaya
saya sendiri. Orang tua saya tidak diamanahi banyak uang dan
harta untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi. Terlebih
lagi ibu saya sedang mengalami sakit yang membutuhkan biaya cukup banyak saat
itu. Kakak-kakak saya tidak dapat berbuat banyak karena mereka pun punya
kebutuhan sendiri. Saya benar-benar kecewa saat itu. Namun saya tidak
bisa menyerah sebelum saya berusaha hingga titik penghabisan.
Saya sudah
berusaha keras membujuk ayah saya untuk memberikan izinnya agar saya dapat
mengambil kesempatan kuliah itu. Saya berjanji akan mencari beasiswa dan bekerja paruh waktu untuk meringankan bebannya. Namun usaha saya
tidaklah membuahkan hasil.
Saya hampir
putus asa dan menyerah. Saya sudah mengatakan kepada kakak saya bahwa saya
ikhlas tidak mengambil kuliah pada tahun itu dan akan mengikuti tes SNMPTN pada
tahun berikutnya. Memang, tujuan saya mengikuti SNMPTN waktu itu sekadar ingin
membuktikan bahwa saya bisa. Teman-teman saya yang tahu bahwa saya tidak
mengambil kesempatan itu protes dan memberikan semangat untuk saya.
Semangat itu
mengantarkan langkah saya menuju ke PT pertamina yang berjarak sekitar 1-2 km
dari rumah saya. Dengan langkah penuh harap di ujung keputusasaan, saya
benar-benar mengemis meminta bantuan beasiswa. Nampaknya saya sudah tidak punya
rasa malu lagi saat itu. Berat rasanya membendung air mata ini. Usaha saya kali
ini lagi-lagi gagal. Saya kembali membujuk orang tua saya di satu hari sebelum
hari terakhir pembayaran seharusnya. Untuk ke sekian kalinya saya tidak
mendapatkan hasil, Saya pasrah.
Rencana-Nya
selalu indah pada waktu yang tepat. Pihak BEM FKIP UNS menghubungi saya,
rupanya kakak teman saya yang tahu tentang kondisi saya memberitahunya. Pihak
BEM FKIP UNS memberikan info bahwa ada beasiswa bidikmisi. Mereka meyakinkan
saya di saat semangat saya medekati nol. Saya kembali membicarakannya kepada
orang tua saya.
Kemudian saya mengurus syarat-syarat beasiswa bidikmisi. Hingga tiba di Surakarta, perjuangan belum berakhir. Dari pagi hingga sore hari, ditemani kakak mahasiswa BEM, saya mengurus surat-surat syarat mendapatkan beasiswa bidikmisi. Masa orientasi studi dan pengenalan kampus tiba. Penantian pengumuman penerima beasiswa bidikmisi membuat saya tidak bisa menikmati masa-masa orientasi. Apalagi ibu saya dalam keadaan sakit. Saya menyerahkan seutuhnya pada yang Kuasa.
Alhamdulillah,
di hari terakhir ospek, saya baru bisa tersenyum karena nama saya tercantum
sebagai mahasiswa penerima beasiswa bidikmisi. Saya sangat bersyukur. Di saat
inilah orang tua saya bahagia.
- Ceritakan pengalaman anda ketika berada dalam situasi yang bertentangan dengan nilai/prinsip yang anda yakini
Terkait
pengalaman saya dalam situasi yang bertentangan dengan nilai/prinsip yang saya
yakini terjadi dengan orang tua saya sendiri. Mereka menganggap bahwa sekolah tidaklah penting.
Bagi mereka sekolah hingga SMA saja sudah cukup, apalagi bagi seorang perempuan yang nantinya di
dapur menjadi ibu rumah tangga. Sekolah mahal.
Hal ini
menghambat langkah saya untuk melanjutkan belajar di perguruan tinggi. Bukan
hal yang mudah meyakinkan orang tua saya tentang pentingnya belajar. Saya
melakukannya berkali-kali, menunjukkan kepada orang tua saya bahwa belajar
sangatlah penting dan banyak manfaatnya. Tidak sekadar materi belaka. Kuliah
tidaklah mahal, banyak beasiswa yang diberikan kepada orang-orang yang kurang
mampu.
Namun, usaha
saya tidak cukup meyakinkan mereka hingga saya memutuskan tekad saya untuk
melanjutkan kuliah dengan/tanpa izin dan restu orang tua. Saya berusaha keras
untuk mendapatkan beasiswa agar saya bisa kuliah tanpa harus membebani orang
tua saya. dan saya mendapatkannya.
Alhasil,
setelah empat tahun tiga bulan kuliah dan saya lulus menjadi sarjana
pendidikan, barulah kedua orang tua saya percaya betapa berharganya ilmu untuk
dipelajari dan diamalkan.
Kemudian, orang tua saya kini justru menganjurkan saya untuk melanjutkan kuliah S2 dengan mencari beasiswa tentunya dan tidak lagi melarang adik saya untuk kuliah. Bahkan mereka berusaha keras untuk membiayai perkuliahan adik saya. Mereka sadar bahwasanya memiliki ilmu jauh lebih berharga daripada materi.
- Ceritakan pengalaman anda dalam meyakinkan orang yang kedudukannya lebih tinggi dari Anda untuk mendapatkan dukungan atas sebuah ide atau inisiatif.
Pada program
studi Fisika UNS, terdapat tiga tugas akhir, yaitu skripsi, eksperimen Fisika,
dan seminar Fisika. Saya akan menceritakan tentang salah satu tugas akhir saya yaitu seminar
Fisika. Untuk menyelesaikan seminar Fisika, mahasiswa harus membuat makalah
Seminar. Makalah tersebut harus berkaitan dengan Fisika. Mahasiswa membuat
makalah Seminar Fisika dari hasil penelitian orang lain, menyusun makalah,
kemudian melakukan seminar.
Seminar saya berjudul Pengaruh Variasi Tegangan pada Teknologi Pengolahan Limbah Cair Laundry. Sebelum saya melakukan penelitian, saya harus mendapat perijinan dan persetujuan dari dosen koordinator Seminar Fisika. Dari judulnya saja sudah terlihat bahwa seminar saya lebih condong ke kimia. Hal ini yang menjadikan sedikit masalah. Dosen koordinator Seminar Fisika enggan menyetujuinya. Saya mencoba menjelaskan bahwa saya akan melakukan penelitian sendiri, mengambil data, dan menyeminarkan. Butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan persetujuan. Berkali-kali saya minta persetujuan. Saya meyakinkan dosen koordinator Fisika bahwa penelitian saya masih berkaitan dengan Fisika dalam penggunaan variasi tegangannya. Selain itu penelitian saya juga banyak manfaatnya bagi lingkungan. Penelitian saya bertujuan mengurangi pencemaran badan air dari air limbah laudry yang dibuang secara langsung ke lingkungan.
Dosen koordinator Fisika tidak kunjung menyetujui, beliau menganggap seminar saya terlalu rumit karena melakukan penelitian sendiri. Tidak seperti mahasiswa lain yang menggunakan hasil peneltian orang lain. Setelah berkali-kali saya meyakinkan dosen koordinator bahwa saya mampu melakukan penelitian itu, akhirnya judul saya disetujui.
Saya bersyukur karena beberapa dosen lain tertarik dengan penelitian saya. Selain itu beberapa adik tingkat melakukan penelitian seperti saya untuk tugas akhir seminar Fisikanya dengan mengganti jenis limbah dan variasi tegangan serta arus.
- Dukungan apa yang Anda harapkan dari IM selama masa penugasan menjadi pengajar muda?
- tempat
tinggal
- biaya hidup
- akses komunikasi
- biaya hidup
- akses komunikasi
- Jelaskan 3 hal yang menjadi kekuatan karakter diri Anda.
- Percaya diri
- Optimis
- Mudah bergaul
- Optimis
- Mudah bergaul
- Sebutkan hal-hal yang mungkin menghalangi anda untuk menjadi pengajar muda, jika anda diterima dan bagaimana mengatasinya?
- Ceritakan kepada kami hal lain yang Anda ingin sampaikan tentang diri Anda.
- Jika ada, Anda dipersilahkan untuk meng-upload video diri Anda di youtube dan mohon cantumkan link.
Lumayan cukup banyak ya esainya... ada beberapa pertanyaan yang diubah, mungkin karena saya sebagai PM terakhir di suatu penempatan, sementara untuk kali ini PM baru di penempatan baru pula. Semoga bisa jadi pertimbangan buat teman-teman yang mau mendaftar menjadi PM IM. Semoga bermanfaat.
Semangat!! :)
No comments:
Post a Comment